pedih,
kecewa,
ribuan bulir air mata,
angin pertengahan April,
siulet buram di pelupuk mata,
menantikan harapan yang tidak berbalas,
kering,
perih menyayat,
kembali kutundukkan kepala,
berdoa kali ini lebih lama dan panjang dari biasanya,
tanpa kusadari,
lagi-lagi kusisipkan namanya di dalamnya,
sebaris, beberapa kalimat,
sebait hingga akhirnya bercerita kepada Tuhan,
cerita tentang ratusan pertanyaan dan keraguan atas hal yang sedemikian abstrak,
"sebodoh apa anakmu ini Tuhan?",
hening, kudengar sayup angin melewati pundak,
dingin,
hatiku dingin Tuhan.