Apakah patah hati hanya bagi mereka yang bersalah?
ataukah patah hatinya seseorang selalu akan berakibat buruk bagi mereka?
Saya tidak tahu, tidak cukup seinci pun tahu.
saya pernah mengalami ini berkali-kali, tapi tidak pernah cukup cerdas untuk mengantisipasi dan membuat benteng pertahanan untuk hati saya sendiri.
Saya wanita layaknya wanita seumumnya, digoda oleh manisnya sesuatu bernama cinta dan lupa akan hal lainnya, sura (mabuk) dalam pusaran hal itu dan mulai mengabaikan logika.
Serak suara hati saya mengemis ampun saat ia merasa pedih teramat sangat, setiap sisinya disayat-sayat kecewa, dilengkapi oleh pasukan air mata yang dengan murah hatinya melepaskan bergalon-galon ekstrak emosi dan gumpalan cacian terhadap lemahnya diri saya sendiri terhadap ia. ia yang bernama cinta.
tsk, bodoh.
percayalah kawan, jika kalian para pria yang membaca tulisan ini jangan pernah lepaskan dan sia-siakan seorang wanita yang rela mengorbankan waktu, tenaga, tangisnya, tawa bahkan setiap bulir keringat atas usaha yang tak pernah ia hitung atau ia bahkan pikirkan resiko apa yang diambil.
Pertahankan ia, wanita yang mau menemanimu di saat terendah dihidupmu, di saat kamu menangis kecewa karena mungkin pekerjaan dan tekanan luar biasa mengejar,
wanita yang mau mengusap keringatmu tanpa malu akan pandangan orang disekitarnya,wanita yang mengkhawatirkan setiap langkah yang akan kamu ambil demi mencapai citamu,
wanita yang memasang kompres demam dan menyuapimu di saat kamu tidak cukup sehat,
wanita yang akan menomor-duakan kesehatan dan kepentingannya sendiri demi untuk melihat senyummu,
wanita yang tidak pernah menuntut untuk diberikan apapun selain kesetiaan dan cinta kasih darimu.
Para wanita yang saya hormati dan hargai perjuangannya, karena tidak mudah melakukan hal itu hanya karena didasari satu alasan,
Saya menyayangi dia.
Tolong teman, pertahankan-lah wanita itu.
Wanita itu pantas untuk diperlakukan sebaik ia memperlakukan orang yang ia sayang, jika kamu merasa cukup baik, perlakukan dia sebaik ia melakukannya terhadapmu.
Cintai ia dengan tulus ikhlas, dan berbahagialah karena memiliki satu sama lainnya.Dan sekarang inilah saya, meraba-raba apa itu kesendirian
membiasakan diri untuk tidak berporos pada satu nama,
membunuh setiap sel hidup di dalam hati dan perasaan saya,
mencoba tidak mengharapkan apapun, bahkan untuk sekedar berpikir akan adanya kemungkinan itu.
saya wanita yang patah hati, tidak pernah sekalipun berucap bosan akan rutinitas mencintai karena saya hanya memakai hati tidak logika.
saya wanita yang patah hati, berdoa untuk kebahagiaan ia yang saya cintai.saya wanita yang patah hati, mendoakan diri saya sendiri untuk cukup kuat hidup tanpa hati ini lagi.
23.22 WITA
Minggu, 23 Maret 2014
Sepotong sisa hati yang menyepi
1 komentar:
tak bisa ngomong apa, daripada terkesan menggurui. sekalipun pernah mengalami yang kurang lebih sama, tapi kita perempuan adalah mahluk yang kuat dan akan semakin kuat saat melewatinya. Namanya juga Stase Hati :)
Posting Komentar